Gue inget dulu waktu kecil, kalo denger “wajib militer” yang kebayang langsung latihan perang, bawa senjata, push-up di lapangan. Tapi coba lo pikirin, di era sekarang, ancaman buat negara kita itu bentuknya udah beda. Nggak cuma pesawat tempur atau kapal perang. Tapi juga serangan siber yang bisa lumpuhin bank, disinformasi yang bisa pecah belah masyarakat, sampai perang ekonomi.
Jadi, apa iya kita masih perlu wajib militer konvensional yang fokusnya fisik doang? Atau jangan-jangan, yang lebih dibutuhkan sekarang adalah semacam “wajib militer digital”? Sebuah sistem national service modern yang mempersenjatai anak muda buat perang di abad 21.
Ini bukan soal siap nembak atau nggak. Tapi soal siap menjaga kedaulatan digital Indonesia atau nggak.
Dari Medan Perang ke Medan Maya: Bentuk Baru Bela Negara
Bayangin kalo wajib militer itu nggak harus pakai seragam loreng. Tapi bisa pakai hoodie, duduk depan laptop, dan yang dilatih adalah skill-skill yang relevan sama ancaman zaman now.
Studi Kasus 1: Tim Cyber Defense untuk Jaga Infrastruktur Vital
Daripada semua orang latihan menembak, gimana kalo anak-anak IT yang jago dikumpulin dalam program national service khusus. Mereka dilatih buat jadi “tentara siber” yang tugasnya ngamankan infrastruktur vital Indonesia—kayak jaringan listrik, perbankan, dan data pemerintah—dari serangan hacker. Satu tim yang terdiri dari 10 anak jago coding, bisa lebih efektif ngehalau serangan daripada 100 prajurit biasa. Ini bela negara 4.0 yang sesungguhnya.
Studi Kasus 2: Digital Literacy Corps untuk Lawan Hoaks & Radikalisme
Ancaman terbesar sekarang salah satunya ya perang opini dan hoaks. Bayangin kalo ada program wajib militer dimana anak-anak muda yang melek media sosial dikasih pelatihan literasi digital yang intensif. Terus mereka dikirim ke berbagai komunitas buat ngajarin masyarakat cara bedain informasi bener dan hoaks, cara ngecek fakta. Mereka jadi “tentara” di garda terdepan buat menjaga persatuan bangsa dari dalam.
Studi Kasus 3: Bela Negara lewat Ketahanan Pangan & Energi
Gimana kalo ada anak-anak agroteknologi atau teknik energi, ikut national service dengan cara magang dan bantu bangun sistem pertanian modern di daerah perbatasan? Atau bantu kembangkan energi terbarukan di pulau-pulau terpencil? Itu juga bentuk bela negara. Membangun ketahanan nasional dari sektor yang paling mendasar.
Survei terhadap 2.000 anak muda Indonesia menunjukkan 65% setuju dengan konsep wajib militer jika diarahkan untuk pengembangan skill dan bakti sosial, sementara hanya 28% yang setuju dengan model militer konvensional murni. Mereka pengen kontribusi yang relevan.
Jangan Sampai Gagal Paham, Ini Risikonya
Wacana ini bagus, tapi bisa berantakan kalo nggak dipikirkan matang-matang.
- Disalahgunakan untuk Kepentingan Politik: Sistemnya harus benar-benar independen dan nggak boleh dipolitisasi buat jadi alat kekuasaan. Harus ada pengawasannya yang kuat.
- Jadi Beban Ekonomi Baru: Biaya buat ngelatih jutaan anak muda setiap tahunnya itu besar banget. Harus ada hitungan yang jelas dan pendanaan yang sustainable, jangan malah bikin utang negara.
- Ngehambat Karir dan Pendidikan: Masa iya anak yang lagi kuliah atau baru dapet kerja harus berhenti 1-2 tahun? Harus ada fleksibilitas dan pengakuan bahwa program ini setara dengan SKS kuliah atau pengalaman kerja.
Tips Buat Gen Z yang Mungkin Akan Mengalaminya
Kalo suatu hari nanti program ini beneran diterapin, gimana cara lo mempersiapin diri?
- Asah Skill Digital Lo Sekarang Juga: Apapun jurusan lo, skill kayak coding dasar, data analysis, atau bahkan content creation yang etis, itu bakal sangat berguna. Jadi, kalo dipanggil, lo udah punya bekal.
- Pahami Isu Nasional & Global: Bela negara di era digital berarti paham ancamannya. Rajin baca berita dari sumber yang kredibel, paham isu geopolitik, dan melek ekonomi global.
- Jadilah Problem Solver, Bukan Cuma Pekerja: Pemerintah butuh anak muda yang bisa mikir kritis dan nyari solusi. Latih diri lo buat melihat masalah di sekeliling lo dan coba cari jalan keluarnya dengan kreatif.
Kesimpulan: Wajib Militer itu Evolusi, Bukan Revolusi
Jadi, intinya, wajib militer di era modern ini bukan tentang bikin semua orang jadi prajurit. Tapi tentang memobilisasi potensi terbesar bangsa—yaitu anak mudanya—untuk mengatasi tantangan terbesar bangsa dengan cara yang paling modern.
Ini adalah evolusi dari konsep bela negara. Dari memegang senjata, ke memegang kode. Dari menjaga perbatasan, ke menjaga ruang siber. Mungkin kita nggak butuh wajib militer tradisional. Tapi kita sangat butuh semangatnya, yang diwujudkan dalam bentuk yang baru. Sebuah national digital service.
Gimana, lo siap jadi “prajurit” di medan perang yang baru?